Sabtu, 24 September 2011

Financial Accounting Theory

Financial Accounting Theory
TEORI AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
            Teori akuntansi memiliki kaitan yang erat dengan akuntansi keuangan, terutama pelaporan keuangan pada pihak eksternal. Teori akuntansi sektor publik sendiri sebenarnya masih dipertanyakan apakah memang ada teori akuntansi sektor publik. Sektor swasta yang perkembangan akuntansinya lebih pesat saja oleh beberapa ilmuwan masih dipertanyakan apakah sampai saat ini benar-benar memiliki teori akuntansi yang mapan. Suatu teori perlu didukung oleh berbagai riset yang di dalamnya terdapat hipotesa-hipotesa yang diuji kebenarannya. Teori memiliki tiga karakteristik dasar, yaitu :
1.      Kemampuan untuk menerangkan atau menjelaskan fenomena yang ada (the ability to explain)
2.      Kemampuan untuk memprediksi (the  ability to predict)
3.      Kemampuan mengendalikan fenomena (the ability to control given phenomena).

Pada dasarnya terdapat tiga tujuan mempelajari teori akuntansi, yaitu :
1.      Untuk memahami praktik akuntansi yang saat ini ada
2.      Mempelajari kelemahan dan kekurangan dari praktik akuntansi yang saat ini dilakukan, dan
3.      Memperbaiki praktik akuntansi di masa yang akan datang

Disiplin ilmu diklasifikasikan dalam lima kelompok :
1.      ilmu murni atau abstrak (abstrack science) : misalnya matematika, ilmu logika, dan metafisik.
2.      ilmu deskriptif (general descriptive sciences), mendasarkan pengetahuannya melalui observasi dan pendeskripsian suatu fenomena actual, misalnya ilmu kimia, biologi, dan sosiologi.
3.      ilmu derivatif (special derivative sciences), merupakan turunan dari ilmu lain misalnya botani, zoology, minerologi, dan etnologi
4.      ilmu sinoptis (synoptic sciences), merupakan turunan dari ilmu derivative, yang merupakan gabungan dari beberapa ilmu, contohnya auditing, geologi, dan geografi
5.      ilmu terapan (applied sciences): disiplin ilmu yang terpisah dari disiplin ilmu lain, namun bisa juga merupakan kombinasi dari berbagai rinsip yang diambil dari disiplin ilmu lain, yang disesuaikan dengan kebutuhan praktis ilmu tersebut, contohnya ilmu akuntansi

Akuntansi sector public dikatakan memiliki teori yang mapan apabila terpenuhi beberapa persyaratan. Bangunan ilmu terdiri atas konsep dasar, postulat, teori, konsep, prinsip, standar, dan praktik aplikasi.

HAMBATAN
Akuntansi sektor publik memiliki beberapa hambatan dalam menghasilkan laporan keuangan yang relevan dan reliable (dapat dipercaya) yaitu:

1.      Objektivitas
2.      Konsitensi
3.      Daya Banding
4.      Tepat Waktu
5.      Ekonomis dalam Penyajian Laporan Keuangan
6.      Materialitas

Objektivitas
Laporan Keuangan disajikan manajemen untuk melaporkan kinerja yang telah dicapai manajemen selama periode waktu tertentu kepada pihak eksternal yag menjadi stakeholder organisasi.Objektivitas diperlukan adanya adanya benturan kepentingan antara manajemen dengan stakeholder. 
            Objektivitas juga dapat dijelaskan melalui contracting theory yang menghasilkan agency relationship. Agency problem muncul karena adanya opportunistic behaviour agen, yaitu perilaku manajemen/agen utk memaksimumkan kesejahteraannya sendiri yg mungkin berlawanan dengan kepentingan prinsipal.
Teknik akuntansi yg digunakan manajemen harus memiliki derajat objektivitas yang dapat diterima semua pihak yang menjadi stakeholder.
Contoh: Dinas social dilihat dari seberapa efisien mereka menggunakan dana yang diberikan karena itu mereka akan lebih focus untuk membuat dana terlihat efisien,sedangkan dinas pendapatan akan berusaha membuat pendapatan mereka sudah maksimal.

Konsistensi
Konsistensi adalah penggunaan  metoda/teknik akuntansi yang sama untuk menghasilkan laporan keuangan organisasi selama beberapa periode waktu secara berturut-turut.  Tujuannya adalah agar laporan keuangan dapat diperbandingkan kinerjanya dari tahun ke tahun, sesuai   prinsip going concern (orientasi jangka panjang).


Daya Banding
       Laporan keuangan sektor publik hendaknya dapat diperbandingkan antar periode waktu dan dengan instansi lain yang sejenis.  Daya banding berarti laporan keuangan dapat digunakan untuk membandingkan kinerja organisasi dengan organisasi lain yang sejenis. 
Kendala daya banding terkait dengan:
  1.  Objektivitas karena semakin objektif laporan keuangan akan semakin tinggi daya bandingnya sehinga dasar yang sama akan menghasilkan laporan yang berbeda.Contoh:Laporan keuangan BUMN dapat berbeda dengan laporan keuangan Pemerintah Daerah karena objektivitas dari masing-masing institusi dapat berbeda.
  2. Konsistensi karena adanya alternatif penggunaan metode akuntansi juga dapat menyulitkan tercapainya daya banding.Contoh:BUMN A dapat menggunakan metode penyusutan straightline sedangkan BUMN B dapat menggunakan metode penyusutan doube declining.

Tepat Waktu
Laporan keuangan harus disajikan tepat waktu agar dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi, sosial dan politik serta untuk menghindari tertundanya pengambilan keputusan tersebut. Kendala: semakin banyak kebutuhan informasi, semakin banyak waktu yang dibutuhkan sehingga dapat membuat informasi tersebut tidak relevan

Ekonomis dalam Penyajian Laporan
Penyajian laporan keuangan membutuhkan biaya, semakin banyak informasi yang dibutuhkan semakin besar pula biayanya. Kendala:  berarti bahwa manfaat yg diperoleh harus  lebih besar dari biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan laporan tersebut.

Materialitas
Informasi dianggap material bila mempengaruhi keputusan, atau jika informasi tersebut dihilangkan akan menghasilkan keputusan yang berbeda. Penentuan materialitas bersifat subjective judgement, merupakan professional judgement yang mendasarkan pada teknik tertentu.

UNIT PELAPORAN
            Teori untuk unit pelaporan terdiri atas:

1.      Teori kepemilikan
2.      Teori entitas
3.      Teori dana
4.      Teori commander

Teori kepemilikan

            Teori ini melihat organisasi secara eksklusif dari sudut pandang pemilik.Dalam kasis ini akun-akun ditujukan ke shareholder dan neraca adalah pernyataan yang menunjukkan posisi keuangan shareholder.Laporan laba rugi dilihat sebagai perubahan posisi keuangan shareholder.Persamaan akuntansinya sebagai berikut:

Assets-liabilities=shareholders equity

Teoti Entitas
            Sudut Pandang teori ini adalah bahwa entitas memandang organisasi berbeda dari setiap kelompok individu yang terkait dengannya.Hal ini menyebabkan unit pelaporan adalah entitas dan laporan ditujukan kepada pihak yang berhubungan dengan entitas.Pelaporan perusahaan ditujukan untuk investor,kreditor,karyawan,penasihat analis,pemerintah dan masyarakat.Persamaan akuntansi sebagai berikut:
Assets=liabilities

Teori Dana
            Teori ini muncul karena dua teori sebelumnya dianggan memiliki kelemahan dimana teori kepemilikan tidak memuaskan untuk perusahaan yang pemilik sahamnya selalu berubah seperti perusahaan yang listing di bursa efek sementara teori entitas menimbulkan pertanyaan mengenai penentuan dari entitas itu sendiri.Vatter (pengenbang teori dana) mengusulkan agar unit pelaporan harus didefinisikan sebagai dana dan organisasi dilihat sebagai satu pendanaan atau beberapa pendanaan.

Teori commander
            Teori ini merupakan variasi dari teori dana dimana organisasi silihat dari jumlah pusat pertangugjawaban.Setiap pusat pertanggungjawaban dikontrol oleh manajer (commander) dan setiap manajer bertanggung jawab atas kinerja unitnya.

PEMBUATAN KEBIJAKAN AKUNTANSI
Akuntansi merupakan aktivitas jasa untuk menyedakan informasi yang diperlukan dalam pengambilan keputusan. Pada sector public, pengambilan keutusan terkait dengan keputusan ekonomi, social, dan politik. Baik pada sector public maupun sector swasta akuntansi dibagi menjadi 2, yaitu akuntansi manajemen dan akuntansi keuangan. Akuntansi keuangan didefinisikan sebagai suatu prinsip, metode, dan teknik pencatatan dan pengorganisasian data  keuangan untuk membantu pengambilan keputusan.
Ruang lingkup akuntansi keuangan pemerintah mencakup pengumpulan data, penganalisian, pangklasifikasian, pencatatan, pelaporan atas transaksi keuangan, serta penafsiran terhadap hasil-hasilnya.
Aturan dasar system akuntansi keuangan menurut Masisi (1978) dalam Glynn (1993):
1.      Identifikasi kegiatan operasi yang relevan.
2.      Pengklasifikasian kegiatan operasi secara tepat. Suatu operasi dapat dicatat/diakui pada tahap tertentu dari proses transaksi. Misalnya, pembelian dapat dicatat/diakui ketika keputusan untuk membeli suatu barang ditetapkan, pada waktu dilakukan pemesanan, ketika barang diterima, ketika faktur diterima, ketika barang tersebut digunakan untuk produksi, atau ketika telah dilakukan pembayaran kas. Oleh karena itu harus ditetapkan kapan suatu transaksi dapat diakui/dicatat.
3.      Adanya system pengendalian untuk menjamin reliabilitas. System pengendalian ini memiliki 2 komponen, yaitu komponen formal dan substansial. Komponen formal adalah pembukuan berpasangan (double entry book-keeping): kesalahan akuntansi akan dapat diketahui dan dilacak ketika jumlah sisi kredit tidak sama dengan sisi debit. Komponen substansial merupakan mekanisme konflik kepentingan (konflik of interest): kesalahan akuntansi muncul ketika mempengaruhi secara negative pihak ketiga. Contohnya, jika utang tidak dicatat dengan baik, jumlah yang dibayarkan kepada kreditor akan berbeda dengan jumlah yang seharusnya diterima sebagaimana tercatat dalam akun piutang yang diakui kreditor.
4.      Menghitung pengaruh masing-masing operasi. Terdapat beberapa kesamaan akuntansi keuangan baik pada sector public maupun swasta. Contohnya, pada kedua sector tersebut direkomendasikan untuk menggunakan system pembukuan berpasangan dalam mencatat akun-akun transaksi. Kedua sector sama-sama membutuhkan standar akuntansi keuangan sebagai pedoman pencatatan agar terdapat perlakuan yang sama terhadap suatu transaksi.

Standar Akuntansi Sektor Publik
            Standar akuntansi merupakan pedoman atau prinsip-prinsip yang mengatur perlakuan akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan untuk tujuan laporan kepada para pengguna laporan keuangan, sedangkan prosedur akuntansi merupakan praktk khusus yang digunakan untuk mengimplementasikan standar. Untuk memastikan diikutinya prosedur yang telah ditetapkan, system akuntansi sector public harus dilengkapi dengan system pengendalian intern atas penerimaan dan pengeluaran dana public.
            Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam penetapan standar akuntansi:
1.      Standar memberikan pedoman tentang informasi yang harus disajikan dalam laporan posisi keuangan, kinerja, dan aktivitas sebuah organisasi bagi seluruh pengguna informasi.
2.      Standar memberikan petunjuk dan aturan tindakan bagi auditor yang memungkinkan pengujian secara hati-hati dan independen saat menggunakan keahlian dan integritasnya dalam mengaudit laporan suatu organisasi serta saat membuktikan kewajarannya.
3.      Standar memberikan petunjuk tentang kumpulan data yang perlu disajikan yang berkaitan dengan berbagai variable yang patut dipertimbangkan dalam bidang perpajakan, regulasi, perencanaan, serta regulasi ekonomi dan peningkatan efisiensi ekonomi serta tujuan social lainnya.
4.      Standar menghasilkan prinsip dan teori yang penting bagi seluruh pihak yang berkepentingan dalam disiplin ilmu akuntansi.

Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dan penetapan standar adalah sedapat mungkin menghindari terjadinya standar yang overload. Standar yang overload terjadi ketika:
a.      Standar terlalu banyak
b.      Standar terlalu rumit
c.       Tidak ada standar yang tegas (rigid) sehingga sulit untuk membuat pilihan dalam penerapannya
d.      Standar mempunyai tujuan yang sifatnya umum (general purpose standards) sehingga gagal dalam menyajikan perbedaan kebutuhan diantara para penyaji dan pengguna
e.      Standar kurang spesifik sehingga gagal dalam mengidentifikasi perbedaan antara:
1.      Entitas public dan entitas nonpublic
2.      Laporan keuangan tahunan dan interim
3.      Organisasi besar dan kecil
4.      Laporan keuangan auditan dan non auditan
f.        Pengungkapan yang berlebihan, pengukuran yang terlalu kompleks, atau kedua-duanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar