Sabtu, 24 September 2011

Technical Analysis


Bolinger Band
Latar Belakang
Bolinger Bands adalah diciptakan oleh John Bollinger pada awal tahun 1980.  Alat ini diciptakan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan akan trading band yang bersifat adaptif, dan fakta bahwa volatilitas bersifat dinamis, tidak statis seperti anggapan banyak orang kala itu.
Bollinger band diciptakan untuk memberikan definisi tinggi dan rendah relatif. Harga didefinisikan tinggi bila berada di sekitar batas band atas, dan didefinisikan rendah berada pada pada batas band bawah. Definisi ini dapat membantu untuk mengenali suatu pola dengan lebih teliti, dan berguna dalam membandingkan pergerakan harga dengan pergerakan indikator-indikator untuk dapat mengambil keputusan trading yang sistematik.
Bollinger band terdiri dari tiga kurva yang digambar berhubungan dengan harga saham.  Middle Band untuk menunjukkan trenda jangka menengah, biasanya merupakan moving-average sederhana yang berlaku sebagai dasar bagi band atas dan band bawah. Jarak antara upper dan lower band dan dengan Middle band ditentukan oleh volatilitas, biasanya merupkan standar deviasi dari data yang sama yang digunakan untuk perata-rataan. Parameter defaultnya, 20 periode dan dua standar deviasi, dapat diubah sesuai dengan kebutuhan.
Karena standar deviasi adalah ukuran dari volatilitas, Bollinger band otomatis berubah-ubah sesuai dengan perubahan volatilitas: melebar ketika pasar sedang volative, dan menyempit dalam periode yang lebih tenang.
Biasanya, harga dianggap terlalu tingi (overbought) ketika kurva harga menyentuh batas atas dari Bollinger band.  Harga saham dianggap terlalu rendah (oversold), ketika harga saham menyentuh batas bawah dari bollinger band.

Penggunaan Bollinger Band
1) Batas atas dan batas bawah dari Bollinger band dapat digunakan sebagai target harga. Jike harga saham rebound dari batas bawah dan memotong garis 20-hari rata-rata, maka batas atas Bollinger band menjadi target harga dari saham tersebut.
2) Kurva harga saham yang memotong 20-hari rata-rata membuat batas bawah dari Bollinger band menjadi target bawah dari harga saham tersebut.  Dalam keadaan dimana trend kenaikan harga saham amat kuat, harga biasanya berfluktuasi antara batas atas dari Bollinger band  dan kurva 20-hari rata-rata. Dalam kasus seperti ini, bila harga saham memotong ke bawah dari kurva 20-hari rata-rata, maka ada peluang terjadinya perubahan trend saham dari naik menjadi turun. 


Karkteristik Bollinger Band
-          Perubahan harga yang tajam cenderung terjadi setelah band menyempit, seiring dengan turunnya volatilitas.
-          Ketika harga bergerak keluar dari band, maka trend yang sedang terjadi saat itu akan terus berlanjut.
-          Bottom dan top di luar band yang diikuit oleh bottom dan top di dalam band memberi pertanda suatu pembalikan trend.
-          Pergerakan yang bermula dari satu band cenderung berlangsung terus sampai ke band yang satunya.  Observasi ini berguna untuk menentukan target harga.
Rumus perhitungan:

Middle Bollinger Band = 20-periode simple moving average
Upper Bollinger Band = Middle Bollinger Band + 2 * 20-period standard deviation
Lower Bollinger Band = Middle Bollinger Band - 2 * 20-period standard deviation
Ada dua alat penting yang dapat diturunkan dari Bollinger band:
BandWidth, suatu ukuran relative dari lebar band % B, suatu ukuran yang menunjukkan posisi harga terakhir  relatif terhadap band. 
BandWidth = (Upper Bollinger Band - Lower Bollinger Band) / Middle Bollinger Band
%b = (Last - Lower Bollinger Band) / (Upper Bollinger Band - Lower Bollinger Band)

BandWidth sering digunakan untuk menentukan “Squeeze”, yang merupakan kesempatan trading yang berlandaskan volatilitas.
% b  digunakan untuk memperjelas pola perdagangan dan digunakan sebagai input untuk system perdagangan.

STOCH-RSI

Indikator StochRSI dikembangkan oleh Tushard Chande and Stanley Kroll pada tahun 1994. Pada dasarnya, indikator StochRSI merupakan pengembangan lebih lanjut dari indikator RSI dan indikator Stochastics Oscillator. RSI merupakan materi dasarnya dan kemudian diolah menggunakan formula Stochastics Oscillator. Dengan demikian, StochRSI merupakan oscillator yang mengukur level RSI relatif terhadap suatu daerah sebar (range) tertentu dalam suatu periode waktu yang telah ditentukan. StochRSI muncul dalam skala 0-1.
Chande and Kroll menjelaskan bahwa RSI kadangkala berada pada daerah nilai 20-80 dalam jangka waktu yang cukup lama sehingga pemain saham tidak dapat mengambil posisi/keputusan untuk jangka waktu yang lama. Karena itu, untuk meningkatkan sensitifitas RSI dan untuk menyediakan metode yang lebih tepat untuk menentukan keadaan jenuh beli dan keadaan jenuh jual dengan menggunakan RSI, Chande and Kroll mengembangkan indikator StochRSI.

Penggunaan StochRSI

Beberapa penggunaan indikator StochRSI adalah sebagai berikut:
1. Keadaan Jenuh Beli / Jenuh Jual
Keadaan jenuh beli terjadi jika tren harga naik sudah terindentifikasi dan StochRSI bergerak naik dari nilai di bawah 0.20 ke nilai di atas 0.20. Sebaliknya, keadaan jenuh jual terjadi jika tren harga turun sudah terindentifikasi dan StochRSI bergerak turun dari nilai di atas 0.80 ke nilai di bawah 0.80.
2. Garis Tengah
Pergerakan StochRSI dari keadaan jenuh jual sampai ke level di atas 0.50 (garis tengah) menandakan sinyal beli dan akan tetap berlaku seperti itu sampai StochRSI turun di bawah nilai 0.50. Sebaliknya, pergerakan StochRSI dari keadaan jenuh beli sampai ke level di bawah 0.50 (garis tengah) menandakan sinyal jual dan akan tetap berlaku seperti itu sampai StochRSI naik kembali di atas nilai 0.50.
3. Positive and Negative Divergences
Positive Divergences yang diikuti pergerakan StochRSI naik di atas nilai 0.20 dapat menandakan sinyal beli. Sedangkan Negative Divergences yang diikuti pergerakan StochRSI turun di bawah nilai 0.80 dapat menandakan sinyal jual.
4. Kegagalan (Failure)
Chande and Kroll memperhatikan bahwa pergerakan melewati pola garis segitiga menunjukkan sinyal kegagalan. Pergerakan StochRSI naik di atas nilai 0.80 juga menunjukkan sinyal kegagalan.
5. Tren yang kuat
Seperti halnya indikator oscillator lainnya, StochRSI dapat berada pada keadaan jenuh beli (jenuh jual) dalam waktu yang cukup lama. Pergerakan StochRSI di atas nilai 0.80 dapat mengandung arti keadaan jenuh jual sudah tercapai. Akan tetapi hal ini juga dapat menunjukkan suatu tren yang sangat kuat dan StochRSI akan tetap berada di atas nilai 0.80 dalam jangka waktu yang lama. Sebaliknya, pergerakan StochRSI di bawah nilai 0.20 dapat mengandung arti keadaan jenuh beli sudah tercapai.
MACD
Moving Average Convergence/Divergence (MACD) dikembangkan oleh Gerald Appel. MACD adalah indikator yang paling sederhana dan paling dapat dipercaya. MACD adalah sebuah tren yang mengikuti pergerakan indikator Momentum dan digunakan untuk menginformasikan arah suatu tren dan perubahannya. Perubahan arah suatu tren terjadi bila garis MACD memotong garis tren harga ataupun bila garis MACD bergerak menjauh dari garis tren harga tersebut.
Yang paling penting untuk diketahui pertama kali dalam memulai kegiatan investasi adalah mengetahui arah tren harga suatu produk sekuritas. Jika arah tren harga tersebut naik maka ambillah posisi beli dan jika arah tren harga tersebut turun maka ambillah posisi jual. Indikator MACD dapat menunjukkan arah tren harga suatu produk sekuritas apakah sedang naik ataukah sedang menurun.
Versi MACD yang paling sederhana adalah versi yang terdiri dari dua buah garis. Garis pertama merupakan garis indikator MACD (yang merupakan selisih antara moving average eksponensial jangka pendek dengan moving average eksponensial jangka panjang) dan garis sinyal (yang merupakan garis moving average eksponensial /EMA dari garis MACD tersebut). Periode yang digunakan biasanya adalah periode 26-hari dan 12-hari berdasarkan data harian serta periode 9-hari untuk garis sinyalnya.
MACD juga merupakan suatu lag indikator (indikator yang lebih lambat dari keadaan yang digambarkan). Gambar yang dihasilkan oleh MACD memberikan suatu garis yang bergerak di atas dan di bawah nol, tanpa adanya batas atas maupun batas bawah. MACD juga merupakan suatu centered oscillator. Oleh karena itu, cara penggunaan/pembacaan untuk centered oscillator juga berlaku untuk MACD.
Garis sinyal dihitung dengan menggunakan moving average eksponensial dari MACD dengan periode 9-hari. Formula ini digunakan oleh banyak program analisa teknikal. Appel dan ahli-ahli lainnya telah mengembangkan metode ini lebih jauh, dan menghasilkan MACD yang lebih tepat untuk saham yang lambat (pergerakannya relatif lambat) dan saham yang cepat (pergerakan harganya relatif cepat).
Pemanfaatan MACD yang lebih pendek akan menghasilkan indikator yang lebih cepat dan lebih responsif. Sementara itu MACD yang lebih panjang akan menghasilkan indikator yang lebih lambat dan lebih cenderung tidak salah deteksi.
Penggunaan MACD
Ada tiga cara penggunaan yang paling umum pada indicator MACD.
1. Memotong (Crossovers)
Aturan dasar dari MACD adalah jika garis MACD turun di bawah garis sinyalnya maka muncullah sinyal beli dan jika garis MACD naik di atas garis sinyalnya maka muncullah sinyal jual. Dapat juga menggunakan aturan jika garis MACD turun di bawah garis 0 maka muncullah sinyal beli dan jika garis MACD naik di atas garis 0 maka muncullah sinyal jual.
2. Keadaan Jenuh Beli/ Jenuh Jual (Overbought/Oversold Conditions)
MACD juga sangat berguna untuk menentukan keadaan jenuh beli/jenuh jual. Ketika moving average jangka pendek menjauh dari moving average jangka panjangnya (yang berarti MACD naik), maka biasanya harga suatu produk sekuritas sudah berada di atas harga yang seharusnya dan akan kembali ke level yang lebih realistik segera. Keadaan jenuh beli/jenuh jual dengan menggunakan MACD sangat bergantung pada tiap jenis produk sekuritas yang digunakan.
3. Divergences
Jika MACD bergerak berlawanan arah dengan gerakan harga suatu produk sekuritas, maka ini merupakan suatu sinyal bahwa tren yang sedang berlangsung saat ini akan berakhir. Bearish divergence terjadi jika MACD berada di level terendahnya yang terbaru sedangkan harga telah gagal mencapai nilai terendah yg terbaru. Bullish divergence terjadi jika MACD berada di level tertingginya yang terbaru sedangkan harga telah gagal mencapai nilai tertinggi yg terbaru. Kedua jenis divergence ini akan menjadi sangat penting pada keadaan jenuh beli maupun jenuh jual.
PRICE AND VOLUME TREND
Indikator Price and Volume Trend (PVT) sebenarnya serupa dengan indikator On Balance Volume (OBV). Kedua indikator ini sama-sama dihasilkan dengan menjumlahkan volume perdagangan suatu produk sekuritas secara kumulatif berdasarkan perubahan harga penutupan hari ini dibandingkan dengan harga penutupan pada hari sebelumnya.
Jika indikator OBV menjumlahkan semua volume harian pada hari dimana harga penutupannya naik dan menguranginya pada hari dimana harga penutupannya turun, indikator PVT hanya menjumlahkan/ mengurangi sebagian besar volume perdagangan harian tersebut. Besarnya volume yang ditambahkan/ dikurangi tergantung pada seberapa besar kenaikan/ penurunan harga penutupan hari ini relatif terhadap harga penutupan pada hari sebelumnya.
Penggunaan Price and Volume Trend
Penggunaan indikator PVT juga serupa dengan penggunanaan indikator OBV dan penggunaan indikator Volume Accumulation/Distribution Line. Banyak investor yang berpendapat bahwa indikator PVT lebih akurat dibandingkan dengan indikator OBV. Hal ini dikarenakan indikator OBV menambahkan volume dengan jumlah yang sama besar tanpa peduli apakah harganya naik hanya seperberapa poin ataukah harganya naik dua kali lipat. Sedangkan pada indikator PVT, jika harganya naik sedikit maka volume yang ditambahkan juga sedikit dan jika harganya naik banyak maka volume yang ditambahkan juga besar.

1 komentar:

  1. Ulasan yang bagus...

    Jangan lupa kunjungi situs tentang akuntansi dan bisnis

    https://akupecintaakuntansi.blogspot.com/

    BalasHapus